Sunday, March 20, 2011

Comes At The Right Times

Sekarang aku percaya bahwa jodoh itu datang disaat yang tepat.  Coba deh kita analisa dari pengalaman-pengalaman orang banyak atau tidak perlu jauh-jauh dari pengalaman diriku sendiri saja dulu.  Aku menikah di usia yang masih relatif muda 27 tahun, pada usia tersebut orang cenderung masih berpikir idealis.  Dalam memandang kehidupan kita cenderung terdorong oleh ide-ide ideal dan rasa percaya diri kita yang angkuh.  Merasa kita sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan mana yang buruk.  Pada saat itu, kita merasa bahwa kita selalu merasa benar dengan segala keputusan yang diambil.  Kita selalu berpikir untuk masa kini saja, dan berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang belum kita capai, atau goal oriented.  Kita juga selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain seperti misalnya, oh temanku si ani sudah menikah, wah si tina juga sudah bertunangan, akhirnya kita merasa menderita sendiri.  Saking desperatenya siapa pun yang mendekat kepada kita berharap bahwa dia mencintai kita dengan tulus dan mau menikah dengan kita.  Ok..finally, there's a guy approaching you.  Dia terlihat baik dan manis, setiap hari menelpon menanyakan kabar, dia peduli pada kita, dia bilang dia mencintai kita dan sebagainya, yang kita kira memang beneran cinta.  Sampai akhirnya dia melamar kita.  Horee..akhirnya jadi juga aku menikah..begitulah pikiran kita.  Padahal yang sebenarnya terjadi adalah too desperate can kill your chance to know the person who is with you.  Hanya pacaran selama enam bulan dan karena terlalu percaya bahwa semua yang dia lakukan adalah cinta kasih yang tulus, begitu dilamar kamu menerimanya.  Dan setelah menikah..bam! everything about him revealed..Ternyata dia tidak begitu mencintai kita, dia berselingkuh dan akhirnya pergi meninggalkan kita yang shock tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.  That's the end of our story.  Akhir dari cerita yang bisa disimpulkan adalah dia bukan jodoh kita.

Begitu kita semakin dewasa, dan ketika emosi seseorang sudah mulai stabil, pengalaman hidup semakin membuat seseorang sadar akan berbagai banyak hal.  Baru kemudian kita membuka mata bahwa hidup itu is not that simple.  Akhirnya orang-orang baru menyadari serta mulai mencari jati diri yang sebenarnya dan belajar lebih mendalam mengenai apa arti cinta yang sesungguhnya.  Disaat hati sudah mulai tenang, dan jiwa tak lagi merasa gelisah..tiba-tiba kita menemukan seseorang yang sangat pas.  Di usia yang juga pas..ketika seseorang telah dewasa, telah benar-benar dewasa, tahu akan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan kita.  Disaat seseorang telah benar-benar memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan tahu persis siapa dirinya, disaat inilah biasanya seseorang menemukan pasangan jiwanya.  Dimana dia benar-benar merasa nyaman, merasa dicintai tanpa takut dinilai, punya bahasa tubuh dan jiwa yang sama, dan lain-lain. 

True love or soulmate comes in a right time.  Di waktu yang pas..maksudnya adalah di saat kamu sudah menemukan ketenangan pada dirimu sendiri, disaat pasanganmu juga sudah siap secara emosional, dan materi.  He wants you and You want him let's get married..hehehe..seperti itu ceritanya. Jika sebuah pernikahan tiba-tiba menjadi seperti neraka, aku percaya itu berarti sesuatu yang salah sedang terjadi.  Aku percaya sekali hal itu.  Karena jika dua orang memang menikah karena dilandasi cinta yang mendalam, ingat..cinta yang mendalam, bukan nafsu, bagaimanapun riak dan gelombang yang menghadang mereka bisa mengatasinya karena mereka percaya they are meant to be.  Tidak akan ada kemarahan-kemarahan atau hal-hal yang mengecewakan bisa memisahkan dua orang yang saling mengasihi dan menghormati. 

Tapi kalau menikah karena didorong oleh ide-ide idealis kita, atau mungkin hal lain, aku percaya disaster pasti terjadi.  Makanya seharusnya jangan terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikah jika memang belum yakin siapa pasangan kita. Menikah terlalu muda juga ternyata belum tentu menjamin kita bahagia selamanya. 

No comments:

Post a Comment