Wednesday, April 10, 2013

Sotoy Lagi..

Jika dipikir-pikir lagi pada era pimpinan pak Harto dulu, bangsa kita ini dididik untuk mandiri dalam hal pangan dan pertanian.  Ingat tidak waktu kita kecil dulu, di televisi sering ada acara kelompencapir.  Petani-petani kita waktu itu pintar-pintar. Bangsa kita dulu dididik untuk swasembada pangan.  Pak Harto itu sadar sekali dengan sumber daya dan kekayaan tanah airnya.  Makanya, dia berusaha untuk menjadikan negara ini mandiri dan sejahtera diatas kekuatan dan kekayaan alam sendiri.  

Indonesia itu tanah yang subur, makanya pertanian waktu itu bagus, seingatku dulu aku tidak pernah dengar yang namanya ada impor beras. Kok sekarang malah kita mengimpor beras, dll? Bukannya mengimpor itu pertanda kita tidak bisa menghasilkan sendiri beras? Padahal tanah kita kan subur? Kenapa semua harus serba impor? Memangnya kita tidak bisa menghasilkan sumber bahan pangan dengan kualitas yang bagus?

Kemarin saya baca di twitter sumber kementrian pertanahan bilang bahwa sekarang Indonesia kekurangan lahan sawah. Loh?? Memangnya kemana semua sawah ini menghilang? Dijadikan perumahan ya? Dibangun mall kah?  Kemudian saya dengar lagi bahwa sekarang anak-anak muda sudah tidak ada yang mau menjadi petani, mereka lebih memilih ngojek? Inikah akhir jaman? Inikah yang dinamakan reformasi? Reformasi yang dulu menghancurkan semua idealisme pak Harto? Reformasi yang aku sadari adalah perusakan. Dan Indonesiaku sekarang sudah rusak. Mau jadi apa bangsa ini?

Oke, aku dengar Indonesia adalah negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi no 3? Aku nggak tahu pasti peringkatnya, tapi pertumbuhan yang seperti apa sih? Kok aku nggak bisa merasakannya ya? Atau itu hanya sebuah angka statistik belaka? Malah katanya negara ini sedang mengalami inflasi, harga bawang putih dan merah melonjak, nggak kira-kira lagi mahalnya.  Harusnya kalo tingkat pertumbuhan ekonomi bagus, artinya perekonomian bangsa ini stabil dong, harusnya tidak ada istilah inflasi segala.  Kok sekarang inflasinya bisa tinggi ya? Wah..rasanya aku harus buka buku-buku masa kuliah lagi deh supaya bisa mendapatkan jawabannya.  

Lieur kalau harus memikirkan permasalahan yang dihadapi bangsaku.  Nggak ngerti kenapa bangsaku bisa jadi seperti ini, pulau-pulau bisa diperjualbelikan, pasir dijual, BUMN dijual, kebudayaan kita diaku-aku sama bangsa tetangga, beras saja impor, trus apa yang kita ekspor? Apa yang bisa kita banggakan? Males dehh..

Kok enak aja ya kekayaan kita bisa diperjualbelikan seperti perumpamaan kita ini adalah bangsa yang miskin saja.   Orang miskin itukan jika tidak punya uang, dia menjual harta bendanya.  Masa kita sampai tidak punya harga diri sih, apa-apa dijual? Wew nggak banget dweeh..Maaf maaf aja ya, sepertinya bangsaku ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak punya harga diri lagi.  Dikasih lihat uang matanya berubah hijau.  Tidak lagi punya rasa malu, tidak lagi punya sense of belonging, tidak punya hati nurani seenaknya saja memuluskan segala sesuatu demi uang yang masuknya ke kantong pribadi.  Kasihan..kasihan.. Dimana ya peran ulama-ulama kita? Apa manusia sekarang kalau mendengar ceramah masuk kuping kiri keluar kuping kanan saja alias 'sebodo teuinglah'?

Masih ada tidak sih calon-calon pemimpin bangsa yang jujur itu? Ada tidak ya yang prinsipnya masih murni dan hatinya masih bersih?

Ahh ya sudahlah..Aku sih cuma segelintir orang kecil yang hanya bisa mengelus dada melihat dunia di luar sana.  Aku cuma bisa berdoa dan memohon perlindungan Allah semata agar senantiasa dilancarkan rezekinya dengan cara yang halal.  Dan semoga Allah mencukupi semua kebutuhanku dan keluargaku.  Aamiin. Sekedar pandangan sinis seorang ibu rumah tangga:-) Biar bagaimanapun kesinisanku adalah bukti bahwa aku peduli dan masih mencintai negeriku sendiri.

Aku Wanita Dove, And I Love It:)

Yup..agree with this..

Each Day Is An Adventure For You To Discover

Face each day without fear or expectation. Experience to the fullest whatever comes your way. It is as God meant it to be

You May Not Know It


Organized Now And Then..

Aku si miss organized yang suka sekali mencari ide untuk merapikan barang-barang kecil yang ada disekitar rumah.  Dan aku ini juga suka sekali menggunakan kembali, atau 'reuse' barang-barang yang sudah menumpuk dan tak terpakai di gudang.  Nah kebetulan kemarin aku sedang merapikan lemari Darren, dan kulihat kaus kaki dan topi-topinya itu bergeletakan tak tertata.  Otakku berputar mencari ide, kira-kira harus ditempatkan dengan apa ya kaus-kaus kaki ini? Ting! Kotak sepatu!  Yaa! 

Kebetulan yang namanya kotak sepatu kosong tuh bertumpuk di atas lemari sepatu, sebagian besar sih memang masih digunakan untuk menyimpan sepatu-sepatu yang belum pernah 'tersentuh' sama sekali saking seringnya membeli koleksi-koleksi yang baru.  Nah..Jadilah aku sibuk berurusan dengan debu-debu kotak sepatu yang menggunung itu, dan menemukan dua buah kotak yang kosong ini.  Yup, meski beda ukurannya tapi tak masalah lah..yang pentingkan fungsinya.

Oke..Terus diapakan ya supaya kotak tersebut layak untuk dijadikan tempat menyimpan pernik-pernik kecil di lemari? Lihat yuk apa yang aku lakukan..

Siapkan dulu kertas kado yang tak terpakai, gunting, lem, dan oya jangan lupa kertas minyak untuk alasnya.

 Tempel sisi kiri, kanan, dan bawah dengan kertas kadonya seperti ini..

 Gunting kertas minyak selebar dan sepanjang ukuran alas kotaknya, jadikan alas supaya tidak kotor.

 Nah jadinya seperti ini. Tempat kaus kaki, dan tempat menyimpan peci.  

Yah nggak perlu sempurnalah..yang penting fungsinya. Lihat, lemarinya jadi rapih kan..Hmm..siapa tahu nanti akan ada kotak lain untuk menyimpan benda-benda kecil lainnya? Aku sedang berpikir tempat menyimpan underwearnya Darren. Ehm..maaf..:) Tapi, ya itu lain kali saja ya.  Lumayankan;)

Tuesday, April 9, 2013

Being A Hatred Only Wasting Your Time

 “Do not worry about tricks and cheat. If some people are trying to trap and hurt you, God is also trapping them. Hole diggers fell in their holes. No bad remains non punished, no good remains non awarded. Have faith in justice and let the rest be.”~ Shams Tabrizi

Orang itu ada yang jahat sekali ya..Pikirannya negatif sekali terhadapku.  Yah..biarlah..siapapun dia yang sinis terhadapku yang jelas dia tertarik dengan kehidupanku dan mungkin juga sebenarnya peduli padaku hehehe..Atau bisa jadi, dia ini sesungguhnya seseorang yang iri padaku?:) 

Aku hanya mengingatkanmu saja wahai teman, sebencinya dirimu terhadapku..takkan berpengaruh apapun pada diriku.  Aku justru merasa kasihan padamu.  Dengan membenciku, kau hanya membuang dan menyia-nyiakan waktu berhargamu untuk menjadi seorang pembenci, menjadi seorang yang negatif.  Kamu bisa saja mengatakan aku bitch..itu adalah urusanmu.  Tapi kamu tahu tidak apa arti bitch itu? 

B: Beautiful
I : Intelligent
T: Tough
C: Charming
H: Human

Jadi aku ini seorang manusia yang Beautiful, Intelligent, Tough, and Charming maksud kamu? Oooh..makasih yaa atas komplimennya;) 

Fruit Pizza Ala Chef Mitha..:)

Baru beli oven listrik nih bloggers:-) Bukan pamer ya.  Buat apa memamerkan sebuah oven listrik? hehe..Aku hanya ingin sharing, bahwa dengan oven ini aku bisa membuatkan anakku fruit pizza seperti ini teman..Dan alhamdulillah anakku suka sekali pizzanya. Di coba yuk..makanan sehat untuk anak-anak dari buah-buahan.

 Oven barukuu!

 Voilaa..jadilah pizza buahku..

Tadaa! Siap untuk bekal disekolah..

Pizza Buah:

Bahan-bahan:
- Kulit pizza/pizzado jadi 3-4 buah.
- Nanas kecil potong-potong kecil
- 2 Buah kiwi, potong-potong
- 100 g strawberry, potong-potong
- selai strawbery untuk olesan, secukupnya.
- cream cheese secukupnya
- 100 cc susu cair, untuk olesan
- Mentega untuk olesan pinggan.

Caranya:
- Tusuk-tusuk pizzado dengan garpu, kemudian olesi dengan susu cair.
- Oleskan pinggan dengan mentega, taruh pizzado diatasnya kemudian panggang hingga kuning kecoklatan. Angkat.
- Oleskan pizza dengan selai strawberry dan cream cheese, tata buah kiwi, strawberry, dan nanas diatasnya.  Sajikan.

It's Important To Listen To Your Gut

Reason has its place in this world, certainly. But your gut is that subconscious part of yourself that knows exactly what is right for you. And oftentimes God speaks to you through that subtle but true gut feeling.

Monday, April 8, 2013

Sunday, April 7, 2013

In Mommy's Lap..


I

In God's Perfect Time

There are many things in life that one wishes could happen sooner, that happen a shorter or longer period after the hoped for time. Instrumental in this delay is God’s timing which orchestrates the perfect coordination of all factors that make for the smoothest unfoldment, not just of the wished for outcome, but of how that outcome will relate to all other Divine outcomes.

God’s timing reveals perfection – the perfect unfoldment of the maximum forward movement of healing, expansion, love, relationship, financial stability, etc. - all areas of human experience and spiritual experience in which waiting may be necessary. Yet, the task of learning to wait is a complex one for most embodied souls, for it involves a depth of trust in the reality of Divine perfection and Divine love which assures that the best possible outcome will occur if one does not rush things or take things into one’s own hands prematurely, but waits for Divine will to manifest... ♥

~Julie Redstone "GOD'S TIMING"

It Is There..

Jangan takut tidak menemukan jalan rezeki, karena Allah telah memberi semua yang kita butuhkan dimuka bumi ini.  Jangan takut tidak bisa hidup tanpa uang, karena Allah telah memberi kita akal untuk mengelola semua sumber pangan, sandang, dan papan yang bisa kau gunakan untuk hidup.  Manusia tidak perlu bergantung pada uang, tapi bergantunglah pada keyakinan diri serta kemampuan akal kita yang telah Allah beri pada manusia.  Karena sesungguhnya kekayaan terbaik atau rezeki yang patut kita syukuri adalah berkah akal dan pikiran kita untuk menciptakan sesuatu. 

Coba kita pikirkan, bagaimana para biksu yang tidak bekerja dan memperoleh uang mampu bertahan hidup? Menurutku, mereka mendapatkan makanan mereka dari berkebun, atau melalui bantuan rakyat sekitar.  Mereka tidak takut kelaparan.  Sesungguhnya manusia modern seperti kita juga mampu bertahan hidup tanpa uang, asalkan kita mengerahkan segenap tenaga dan pikiran kita untuk mengolah sumber daya yang ada dengan kreatif.  Syukuri nikmat-Nya, dan jangan pernah takut akan apapun, karena Allah Maha Baik, Maha Pengasih, dan Penyayang. Dia sumber pemberi rezeki.  Dia memberi apa yang kita butuhkan dengan berbagai macam cara-Nya, langsung atau tidak langsung.

Ketika seorang manusia disudutkan pada jurang kehidupan, percayalah..Dia takkan membiarkanmu jatuh dan hancur lebur, Dia akan memberimu sayap untuk survive.  Tapi untuk survive, kita harus percaya pada-Nya.  Percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa kita akan tetap hidup, luka akan sembuh, dan cahaya akan kembali menyinari kehidupan kita.  I've been there..and because i 'TRUST' in Him, now I'm flying..happy, free, and hopefully.  Aku masih hidup, masih bisa makan, masih tidur diatas kasur yang empuk dan nyaman, masih nyaman tinggal dibawah atap yang kokoh dan seterusnya.  Itulah rezekiku.  Dan aku bersyukur pada Allah atas semua kasih-Nya.  

Memang benar bahwa tidak ada cobaan yang kita rasakan adalah sia-sia.  Semua cobaan pasti ada pahalanya, pahala yang terkadang tidak kita sadari.  Tapi semua rasa sakit yang kita lalui semua itu memiliki maksud yang baik, dan akan kita sadari pada waktunya.  Tanpa cobaan, jiwa kita takkan menjadi dewasa.  Tanpa cobaan, kita tidak akan pernah sadar makna hidup, apa arti Tuhan, dan takkan pernah tahu nikmat-nikmat-Nya.  Sekarang aku tidak takut lagi pada apapun kecuali kematian.  Aku tak lagi takut terluka, tak takut pada masa depan, yang aku takuti adalah ketidaksiapanku menghadapi kematian.  Tapi, selama aku hidup insyaAllah, semoga aku senantiasa eling untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupanku.  Aku berusaha berjalan di jalan yang lurus, jalan yang Dia ridhai.  InsyaAllah..

Dear Lord, my faith to you become stronger and stronger.  You are the best thing that I had and You are my destination. Thank you for Your kindnesses..

Crying- Don Mclean


I was all right for a while, 
I could smile for a while 
But when I saw you last night, you held my hand so tight 
When you stopped to say "Hello" And though you wished me well, you couldn't tell 
That I'd been crying over you, crying over you 
Then you said "so long" left me standing all alone Alone and crying, crying, crying crying 
It's hard to understand that the touch of your hand 
Can start me crying 

I thought that I was over you but it's tru-ue, so true 
I love you even more than I did before but darling what can I do 
For you don't love me and I'll always be 

Crying over you, crying over you 
Yes, now you're gone and from this moment on I'll be crying, crying, crying, crying 
Yeah crying, crying, over you

The World Never Delivers On Its Promises

Make more money and you'll be happier, get a bigger house and you'll feel satisfied, buy fancier clothes and people will admire you - the materialist's mantra. But there is always a bigger house, someone making more money and a new style that makes your expensive wardrobe obsolete. Pursue things that deliver: take care of each other, love one another and believe in God. These are things that deliver, and that's a promise.

Saturday, April 6, 2013

Jadilah Seperti Padi

Padi mengajarkan kita arti rendah hati.  Semakin berisi semakin merunduk.  Semakin dewasa, semakin sederhana, semakin berilmu, semakin low profile.

Emergency Kit That Every Girl Should Have

Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, saya semakin 'sadar' akan pentingnya menyederhanakan hidup agar lebih mudah.  Saya tergolong orang yang sangat menyukai keteraturan, dan kerapihan lingkungan.  Maka di rumah, saya paling suka menata/mengorganized barang-barang atau alat-alat rumah tangga, menata kamar, hingga isi tas saya.  Nah ngomong-ngomong soal isi tas, saya mendapatkan sebuah inspirasi dari sebuah laman tentang bagaimana seharusnya seorang wanita mengantisipasi berbagai macam keadaan darurat dan barang-barang apa saja yang sebaiknya ada di dalam tas kita.  Ini nih contohnya ibu-ibu..silahkan dipersiapkan benda-benda apa saja yang akan menolong kita suatu hari nanti.


 1. Pantyliner and sanitary napkins, ini harus ada selalu didalam tas kita just in case..
 2. Obat-obatan, seperti handsaplast, betadine, obat sakit kepala, kayu putih, balsem aromateraphy.
 3. Ballpoint, atau alat tulis lainnya.
 4. Gunting kuku
 5. Power glue, untuk merekatkan aksesoris dsb.
 6. Tissue basah, tissue kering.
 7. Tusuk gigi
 8. Cottonbut, untuk mengoreksi make up.
 9. Safetypin, dan jarum pentul untuk merapikan pakaian atau kerudung.
10. Benang warna hitam, coklat, dan putih serta jarum jahit.
11. USB, untuk menyimpan data.
12. Minyak wangi favorit.
13. Kapas.
14. Cermin kecil.
15. Permen pelega tenggorokan.

And..tadaa!! So neat isn't it? Tempatkan semua itu kedalam sebuah dompet seperti ini..

Semua itu saya masukkan masing-masing kedalam ziplock supaya rapih dan tidak berceceran. Tinggal masukkan ke dalam tas untuk bergabung bersama teman-temannya yang lain seperti payung, perlengkapan make up, dompet, mukena, dan gadget-gadgetmu.  You're ready anytime!

Smartphone Support For My Tab

Senangnyaa menemukan alat support untuk gadget-gadgetku.  Smarphone holder ini aku beli dari sebuah supermarket dengan harga Rp. 29000,- :)


Trial And Error Mommy

Yang namanya membesarkan anak laki-laki itu susah-susah gampang ya Bloggers..Yah tahu sendiri anak laki-laki itu karakternya memang agak slebor, agak sulit diatur, jiwanya bebas, and so on..Dalam hal penerapan disiplinnya agak membuat saya sedikit pusing, sebab kondisi saya yang single parent dan perannya adalah seorang ibu, posisi saya ini sebagai orang tua adalah yang paling lemah, makanya dalam hal penerapan disiplin pada Darren pun masih trial dan error.  

Kalau anak perempuan itu kan agak mudah ya dalam mendidiknya, karena menurut saya anak perempuan itu lebih fokus, dan penurut dibanding anak laki-laki.  Dan saya paham bahwa yang namanya anak laki-laki itu paling tidak suka dicereweti, tapi tidak juga bisa hanya dibilang sekali dan langsung nurut pada permintaan orang tuanya.  Otomatis saya suka lupa dengan aturan-aturan pada diri sendiri untuk tidak menggunakan cara-cara yang "cerewet" pada anak saya.  Maklumlah, Darren itu anaknya paling tidak bisa dibilangi hanya sekali saja.  Mulai dari perkataan lemah lembut, hingga pada kata-kata keras barulah dia jalan melakukan apa yang saya perintahkan.  

Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang selalu dilewatkan oleh anak saya yang sering membuat saya terkadang kesal.  Seperti lupa menutup pasta giginya, atau membuka pakaiannya dilantai dan lupa memasukkan pakaian kotornya kedalam keranjang laundry.  Makanya untuk hal-hal seperti ini saya punya cara yang belum pernah terpikirkan sebelumnya dan semoga ini adalah cara yang tepat, untuknya mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang baik sehari-hari.


Tulisan ini sengaja saya taruh di atas wastafel supaya dapat ia baca ketika dia mencuci tangan atau sedang menyikat giginya di siang atau malam hari.

Friday, April 5, 2013

Mindfulness, Compassion & Deep Listening: From Oprah Winfrey's Interview with Thich Nhat Hanh, 2012

Good link..An interviewed between Oprah and Thich Nhat Hanh.


Oprah: Okay. We've been talking about mindfulness, and you've mentioned mindful walking. How does that work?

Nhat Hanh: As you walk, you touch the ground mindfully, and every step can bring you solidity and joy and freedom. Freedom from your regret concerning the past, and freedom from your fear about the future.

Oprah: Most people when they're walking are thinking about where they have to go and what they have to do. But you would say that removes us from happiness.

Nhat Hanh: People sacrifice the present for the future. But life is available only in the present. That is why we should walk in such a way that every step can bring us to the here and the now.

Oprah: What if my bills need to be paid? I'm walking, but I'm thinking about the bills.

Nhat Hanh: There is a time for everything. There is a time when I sit down, I concentrate myself on the problem of my bills, but I would not worry before that. One thing at a time. We practice mindful walking in order to heal ourselves, because walking like that really relieves our worries, the pressure, the tension in our body and in our mind.

Oprah: The case is the same for deep listening, which I've heard you refer to.

Nhat Hanh: Deep listening is the kind of listening that can help relieve the suffering of another person. You can call it compassionate listening. You listen with only one purpose: to help him or her to empty his heart. Even if he says things that are full of wrong perceptions, full of bitterness, you are still capable of continuing to listen with compassion. Because you know that listening like that, you give that person a chance to suffer less. If you want to help him to correct his perception, you wait for another time. For now, you don't interrupt. You don't argue. If you do, he loses his chance. You just listen with compassion and help him to suffer less. One hour like that can bring transformation and healing.

Oprah: I love this idea of deep listening, because often when someone comes to you and wants to vent, it's so tempting to start giving advice. But if you allow the person just to let the feelings out, and then at another time come back with advice or comments, that person would experience a deeper healing. That's what you're saying.

Nhat Hanh: Yes. Deep listening helps us to recognize the existence of wrong perceptions in the other person and wrong perceptions in us. The other person has wrong perceptions about himself and about us. And we have wrong perceptions about ourselves and the other person. And that is the foundation for violence and conflict and war. The terrorists, they have the wrong perception. They believe that the other group is trying to destroy them as a religion, as a civilization. So they want to abolish us, to kill us before we can kill them. And the antiterrorist may think very much the same way—that these are terrorists and they are trying to eliminate us, so we have to eliminate them first. Both sides are motivated by fear, by anger, and by wrong perception. But wrong perceptions cannot be removed by guns and bombs. They should be removed by deep listening, compassionate listening, and loving space.

Oprah: The only way to end war is communication between people.

Nhat Hanh: Yes. We should be able to say this: "Dear friends, dear people, I know that you suffer. I have not understood enough of your difficulties and suffering. It's not our intention to make you suffer more. It is the opposite. We don't want you to suffer. But we don't know what to do and we might do the wrong thing if you don't help us to understand. So please tell us about your difficulties. I'm eager to learn, to understand." We have to have loving speech. And if we are honest, if we are true, they will open their hearts. Then we practice compassionate listening, and we can learn so much about our own perception and their perception. Only after that can we help remove wrong perception. That is the best way, the only way, to remove terrorism.

Oprah: But what you're saying also applies to difficulties between yourself and family members or friends. The principle is the same, no matter the conflict.

Nhat Hanh: Right. And peace negotiations should be conducted in that manner. When we come to the table, we shouldn't negotiate right away. We should spend time walking together, eating together, making acquaintance, telling each other about our own suffering, without blame or condemnation. It takes maybe one, two, three weeks to do that. And if communication and understanding are possible, negotiation will be easier. So if I am to organize a peace negotiation, I will organize it in that way.

Oprah: Is there ever a place for anger?

Nhat Hanh: Anger is the energy that people use in order to act. But when you are angry, you are not lucid, and you might do wrong things. That is why compassion is a better energy. And the energy of compassion is very strong. We suffer. That is real. But we have learned not to get angry and not to allow ourselves to be carried by anger. We realize right away that that is fear. That is corruption.

Oprah: What if in a moment of mindfulness you are being challenged? For instance, the other day someone presented me with a lawsuit, and it's hard to feel happy when somebody is going to be taking you to court.

Nhat Hanh: The practice is to go to the anxiety, the worry—

Oprah: The fear. First thing that happens is that fear sets in, like, What am I going to do?

Nhat Hanh: So you recognize that fear. You embrace it tenderly and look deeply into it. And as you embrace your pain, you get relief and you find out how to handle that emotion. And if you know how to handle the fear, then you have enough insight in order to solve the problem. The problem is to not allow that anxiety to take over. When these feelings arise, you have to practice in order to use the energy of mindfulness to recognize them, embrace them, look deeply into them. It's like a mother when the baby is crying. Your anxiety is your baby. You have to take care of it. You have to go back to yourself, recognize the suffering in you, embrace the suffering, and you get relief. And if you continue with your practice of mindfulness, you understand the roots, the nature of the suffering, and you know the way to transform it.

Oprah: You use the word suffering a lot. I think many people think suffering is dire starvation or poverty. But when you speak of suffering, you mean what?

Nhat Hanh: I mean the fear, the anger, the despair, the anxiety in us. If you know how to deal with that, then you'll be able to handle problems of war and poverty and conflicts. If we have fear and despair in us, we cannot remove the suffering in society.

Oprah: The nature of Buddhism, as I understand it, is to believe that we are all pure and radiant at our core. And yet we see around us so much evidence that people are not acting from a place of purity and radiance. How do we reconcile that?

Nhat Hanh: Well, happiness and suffering support each other. To be is to inter-be. It's like the left and the right. If the left is not there, the right cannot be there. The same is true with suffering and happiness, good and evil. In every one of us there are good seeds and bad. We have the seed of brotherhood, love, compassion, insight. But we have also the seed of anger, hate, dissent.

Oprah: That's the nature of being human.

Nhat Hanh: Yes. There is the mud, and there is the lotus that grows out of the mud. We need the mud in order to make the lotus.

Oprah: Can't have one without the other.

Nhat Hanh: Yes. You can only recognize your happiness against the background of suffering. If you have not suffered hunger, you do not appreciate having something to eat. If you have not gone through a war, you don't know the value of peace. That is why we should not try to run away from one thing after another thing. Holding our suffering, looking deeply into it, we find a way to happiness.

Video from interview:
http://www.youtube.com/watch?v=lyUxYflkhzo